Antropologi_mariasirait_analisaflim

Maria Sri Fitri Sirait

Nim: 243300010003

DOSEN PENGAMPU : SEREPINA TIUR MAIDA, S.SOS,M.PD.M.I.KOM

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MPU TANTULAR


ANALISA GOWOK KAMASUTRA JAWA

PERSPEKTIF DARI SISI Budaya, Etika, Sosial dan agama

Ketika Saya mendengar judul Gowok: Kamasutra Jawa terbersit untuk melabelinya sebagai film vulgar. Bahkan saat melihat poster dan menonton trailer film akan memandang sebagai tontonan esek-esek yang mengandalkan eksploitasi tubuh. Namun, sesungguhnya film terbaru garapan Hanung Bramantyo ini menyajikan lapisan makna yang jauh lebih dalam dari sekadar narasi seksual. Ia adalah perenungan budaya, sejarah, dan pendidikan seksual yang dibalut dalam tragedi cinta dan dilema moral yang kompleks.

Gowok bukanlah istilah modern atau asing bagi kebudayaan Jawa. Tradisi ini sudah ada sejak abad ke-15 dan dahulu dijalankan secara terbuka. Seorang gowok adalah perempuan dewasa yang berfungsi sebagai pendidik seksual bagi pemuda bangsawan atau calon pengantin laki-laki. Namun, yang diajarkan bukan semata teknik fisik, melainkan juga falsafah hubungan suami-istri, seni mencintai, dan menghormati perempuan dalam konteks relasi pernikahan.

Film ini dibuka pada era 1950-an, menyoroti hubungan antara Jaya, putra priyayi, dengan Ratri, seorang yatim piatu yang diasuh oleh Nyai Santi, seorang gowok legendaris. Jaya, yang awalnya menolak digowok, akhirnya menerima pendidikan seksual dari Nyai Santi karena melihat aura yang terpancar dari Ratri. Jaya memang sudah dipersiapkan oleh orang tuanya untuk menikah dan bisa menjadi pria sukses dalam berumah tangga kelak. Hubungan awal yang malu-malu dari Ratri, dan diberikan kepercayaan diri oleh Jaya sehingga mereka berdua terjalin erat. Jaya pun tak sungkan untuk membantu Ratri dalam mengurus rumah tangga tanpa sepengetahuan dari Nyai Santi. Hubungan keduanya kemudian terjalin secara fisik dan emosional setelah mereka berdua terkena mantra Kamanjaya-Kamaratih yang salah.

Namun kisah Jaya-Ratri tidak berjalan mulus. Adanya budaya patriarki dan kesenjangan hubungan priyayi dan rakyat semakin kuat. Jaya memastikan kepada Ratri untuk bisa menjadi manusia bebas seutuhnya, manusia yang terpelajar dan terbebas dari adanya patriarki. Jaya pun selesai menjalani masa pergowokan di rumah Nyai Santi. Jaya kembali kepada kehidupannya sebagai seorang priyayi dengan kisah perpolitikan dan pemerintahan, sedangkan Ratri harus berjibaku menimba ilmu menjadi seorang Gowok yang sukses. Selain mendalami Gowok, Ratri pun berjuang untuk bisa menjadi manusia terpelajar berkat bantuan Jaya.

Kisah mereka pun putus, Mereka menjalani kisahnya masing-masing. Ratri pun belajar menjadi Gowok yang sukses. Dalam momen tersebut Jaya kembali ke pondok Gowok Nyai Santi dengan membawa putranya, Bagas. Jaya pun bermaksud agar Bagas bisa digowok oleh Nyai Santi. Namun, bukan Nyai Santi yang menggowok Bagas, melainkan Ratri yang siap memberikan gowok kepada Bagas. Dilematis ini dihadapi oleh Ratri antara mengikhlaskan atau berbalas dendam kepada Jaya melalui perantara Bagas. Ratri harus memilih antara profesionalisme dalam tradisi dan gejolak emosional yang belum selesai.

Kisah Ratri-Bagas yang semakin rumit pun akhirnya berpadu dalam sejarah di tahun 1965. Kisah tentang adanya komunisme, hingga kepada organisasi Gerwani. Kisah ini semakin menambah khasanah dalam sejarah Indonesia. Meski beberapa bagian terlihat fiksi, namun ada sebuah pelajaran sejarah yang bisa diambil hikmah. Memang, pada akhirnya kisah ini berakhir dengan tak terduga. Meski ada sebuah kejanggalan yang terpatri dalam pikiran terkait akhir film tersebut

Berikut analisa film Gowok: Kamasutra Jawa dari perspektif budaya, etika, sosial, dan agama secara mendalam:

Budaya

Film ini mengangkat tradisi lama dalam budaya Jawa, khususnya wilayah Banyumasan, yaitu profesi gowok—dukun perempuan yang mengajarkan pendidikan seksual kepada pemuda yang belum menikah. Tradisi ini nyaris terlupakan namun sarat nilai tentang hubungan, seksualitas, dan kesetaraan gender dalam masyarakat Jawa. Film ini juga menampilkan estetika budaya Jawa dengan hormat dan sensual tanpa eksploitasi, menyuguhkan nuansa historis dan magis yang kuat. Dengan demikian, film ini menjadi media penting untuk melestarikan dan merefleksikan tradisi yang jarang tersorot dalam perfilman mainstream Indonesia.

Etika

Dari sisi etika, film ini mengusung pesan moral yang kuat terutama bagi kaum pria tentang bagaimana menjadi suami yang menghargai, memahami, dan memuaskan pasangannya secara fisik, emosional, dan spiritual, bukan sekadar hubungan seksual semata. Film ini menempatkan seksualitas sebagai bagian dari pendidikan manusiawi dan budaya, sekaligus sebagai relasi yang setara antara laki-laki dan perempuan, sehingga menantang tabu dan stigma negatif yang selama ini melekat pada profesi gowok dan pembicaraan terbuka soal seksualitas dalam masyarakat patriarki. Namun, ada kritik bahwa plot film ini kadang berantakan dan kurang fokus, sehingga pesan etisnya kurang tersampaikan dengan rapi

Sosial

Secara sosial, film ini menyoroti konflik antara tradisi dan modernitas, serta dinamika kelas dan gender dalam masyarakat Jawa. Hubungan antara Ratri (seorang gowok) dengan Jaya (anak bangsawan) dan kemudian dengan Bagas (putra Jaya) menggambarkan kompleksitas relasi sosial yang dipengaruhi oleh status sosial dan norma keluarga. Film ini juga membuka ruang dialog tentang pendidikan seksual yang selama ini dianggap tabu, serta menantang budaya patriarki yang membatasi peran perempuan dan membungkam diskusi soal seksualitas secara terbuka. Dengan menempatkan tokoh perempuan sebagai pusat narasi, film ini sekaligus menjadi kritik terhadap dominasi kuasa laki-laki dalam budaya Jawa.

Agama

Dari perspektif agama, film ini memberikan klarifikasi bahwa profesi gowok bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai agama, melainkan bagian dari pendidikan dan filosofi yang ada dalam masyarakat Jawa. Film ini mencoba menjelaskan mengapa profesi ini ada meskipun kitab-kitab populer seperti Serat Centhini sudah eksis, menunjukkan bahwa tradisi ini memiliki fungsi sosial dan spiritual yang penting. Hanung Bramantyo sebagai sutradara menempatkan seksualitas dalam konteks yang manusiawi dan religius, bukan vulgar atau bebas, sehingga film ini mengajak penonton untuk merefleksikan hubungan antara seksualitas, budaya, dan agama secara lebih terbuka dan berimbang.

Secara keseluruhan, Gowok: Kamasutra Jawa bukan sekadar film dengan judul provokatif, melainkan karya yang mengangkat warisan budaya Jawa yang kompleks dan sarat makna, dengan pesan feminisme, kritik sosial, dan refleksi agama yang mendalam meskipun ada kekurangan dalam eksekusi narasi. Film ini membuka ruang penting untuk dialog tentang seksualitas, kuasa, dan politik tubuh perempuan dalam konteks tradisi Jawa yang jarang disentuh secara terbuka.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antropologi_mariasirait_analisa podcast

Antropologi_MariaSirait